Warga Wadas secara konsisten menolak tambang batuan andesit untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener sejak awal hingga hari ini. Penolakan warga Wadas ini didasari oleh pertimbangan atas betapa sakralnya relasi manusia dengan tanah Wadas secara diakronis, baik pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Namun demikian kuasa eksklusi rejim pengadaan tanah PSN telah menggempur lahan milik warga Wadas melalui beragam instrumen kebijakan Negara dan melalui pengerahan aparatus Negara. Konflik sosio agraria-lingkungan di Bumi Wadas menjadi keniscayaan. Warga Wadas dipaksa menyerahkan lahan mereka untuk atas nama pembangunan. Penyerahan paksa lahan warga telah berlangsung melalui empat fase, dimana fase keempat merupakan kulminasi tekanan kuasa eksklusi Negara terhadap tanah milik warga. Kondisi ini mengakibatkan berlangsungnya dua implikasi penting, pertama, konflik sosio agrarialingkungan menggerus dimensi kemanusian secara horizontal dan vertikal, dan kedua, kesadaran kritis warga Wadas melawan dampak dan risiko tambang merupakan perjuangan substansial yang akan terus menggema.

Policy Brief KIKA No. 1

Leave a Comment